Selasa, 2008 Agustus 19

Gadis di Persimpangan Sepi


Kutemukan dirinya dengan leher nyaris terpenggal pedang cinta
Berdiri gamang di persimpangan sepi tanpa keyakinan diri
Kakinya gemetar dan napasnya semakin tersengal
Dadanya berdegup seolah ingin memuntahkan sesal dan luka

Jiwanya bergoncang, tak tahu arah harus ke mana
Retinanya mulai kering karena kehabisan air mata
Sorotnya redup menyiratkan tanda nyaris putus asa
Gadis di persimpangan sepi, dia merasa begitu sendiri

Kucoba dekati, tapi aku tak tahu apakah cukup berarti
Kutawarkan empati dan simpati, entah apakah dia peduli
Gadis di persimpangan sepi, biarlah kutemani
Setidaknya engkau tak lagi sendiri

Jika lukamu begitu menganga, jangan lantas kau pasrah karenanya
Jika sesalmu begitu menggunung, jangan lelah engkau menanggung
Sebab, jika pasrah maka engkau akan kalah
Sebab, jika lelah maka engkau akan lengah

Gadis di persimpangan sepi, mari kita petik bunga melati
Biar harumnya mengguyur jiwa lelah dan hampir mati
Biar putihnya mencerahkan betapa masih banyak arti
Biar mata mulai basah, hingga sorotnya memberi arah ke mana harus berlari

Gadis di persimpangan sepi, aku masih di sini
Menunggu sampai engkau mulai peduli

JAKARTA, 19 Agustus 2008

Jumat, 2008 Agustus 15

Malam Kami di Gang Bima


Malam tak pernah kelam di Gang Bima
Sebab, selalu ada yang menyala di antara dengkur-tidur sahabat dan tetangga
Selalu ada suka-cita berbagi cerita para peronda

Ketika mentari mulai sembunyi, itulah saat kami saling berbagi
Bertegur sapa sesama sahabat dan tetangga
Kemudian larut dalam sejuta irama
Kupetikkan gitar dengan dawai-dawai cinta
Lalu ditingkahi melodi kawan hingga makin berirama
Tabuhan tambur pun menambah gema
Menyalalah gairah bercengkerama
Lalu, satu per satu kami mulai bernyanyi
Mendendangkan segala nada di hati
Bahkan tak lupa kami menari, sebagai pelepas lelah dan penat sehari

Sempurna sudah segala cengkerama
Malam semakin bergairah dengan aneka nada yang menjelajah
Bintang makin terang karena riang
Bulan makin genit dan gemulai dalam tarian

Sejenak kami lupakan harga BBM yang makin meremas hati
Sejenak kami berhenti menatap masa depan yang kian tak pasti
Sejenak kami palingkan muka dari segala susah dan derita
Sejenak kami lupakan badut-kancut yang besar perut karena jadi tikus curut
Sejenak kami letakkan kedongkolan hati melihat para petinggi pesta korupsi

Di sini, kami bernyanyi menghibur diri kami sendiri
Dengan nada-nada kepolosan yang justru penuh arti
Dengan irama sederhana yang malah sarat makna

Jika saatnya tiba, lagu "Kapan-kapan" Koes Plus pun kami nyanyikan
Sebagai tanda harus mengakhiri segala cengkerama dan berbagi cerita
Namun, semangat telah kembali tercipta
Kemudian kami membungkusnya, untuk hari esok yang tak jelas juga juntrungnya
Tapi, setidaknya kami punya nyali menghadapinya
Tak harus meratap atau merengek seperti para dewan cengeng di samping istana

Malam kami di Gang Bima
Selalu berirama dalam suka-cita
Tanpa rekayasa dan propaganda
Tercipta kemesraan meski sederhana
Selalu bernyanyi menghibur diri
Sebab, hanya ini yang kami punya, di tengah kenyataan hidup yang makin sengsara
Di tengah zaman yang kian edan dan lupa ingatan
Di antara peradaban bebal yang bikin sebal

Malam kami di Gang Bima
Masih ada jiwa yang mengerti cinta
Masih ada cerita yang memberi makna
Masih tersisa kedamaian tanpa rekayasa
Masih ada cengkerama tanpa menakar harga
Masih banyak nyanyian yang berirama

Sabtu, 2007 Desember 15

Surat kepada sahabat


Renyah tawamu masih tersimpan di brankas jiwaku.
Setiap hari bahkan ku-refresh agar tak basi.
Bau tubuhmu pun kuingat selalu.
Janjimu juga masih targantung di jantungku.
Mengikat hidupku hingga masih kunanti kini.

Masihkah kita berkawan meski kau sudah jadi petinggi?
Masihkah kita memiliki kesamaan dalam mengejar mimpi-mimpi?
Atau kau kelewat terhormat hingga tak perlu mengingat?
Masa-masa tertindas, terpinggirkan, teraniaya dan melarat

Negeri yang terbangun masih jauh dari impian yang kita reka
Pahlawan yang pernah kita puja kini tinggal nama
Kemesraan berbangsa masih sebatas dongeng dan cerita
Kesejahteraan merata hanya komoditas politik dan propaganda

Oh, betapa aku terharu kau kini menjadi bagian istana
Semoga darah yang mengalir di tubuhmu masih merah jingga
Tak perlu kau operasi warna biar menjadi biru
Sehingga aku tetap bangga menyebutmu sahabatku

Jika masih bisa, kusampaikan satu pinta
Sesekali jenguk masa lalu agar kau tak lupa
Rumah reyot yang kita rasakan bersama
Juga jiwa-jiwa tersiksa yang masih banyak di sekitar kita
Atau pilunya tangis orang-orang lapar-dahaga

Mungkin kau merasa tak perlu kembali
Tapi aku masih akan setia di sini
Di kerendahan hati yang pernah kita miliki
Di kepolosan jiwa yang penuh asa dan mimpi
Di kedalaman cinta yang menawarkan sejuta arti
Di keteduhan rasa yang sejuknya tak terperi
Di kesederhanaan yang bebas dari tirani
Di jalan yang memberi banyak bekal untuk mati

(Kawan, biarlah aku tetap di sini dan begini. Masih bebas bernyanyi dan berpuisi. Maaf bila aku berpaling dari lambaian tanganmu. Atau kuludahi sikapmu dan kuumpat retorikamu. Maafkan pula jika aku kini merasa sendiri, berteman sepi dan sunyi. Tapi, setidaknya aku merasa lebih berarti)

Jumat, 2007 Desember 14

Puisi dalam not




Nat... Kukenal dirimu saat penat
Nit... Senyummu menusuk bermenit-menit
Nut... Matamu tajam menikam kepala sampai cenut-cenut
Net... Jantungku menggeliat seperti keplenet
Not... Kucoba lari tapi celana malah melorot

Nat-nit-nut-net-not. Irama itu bertalu-talu di setiap malam-malamku. Kucoba nyanyikan lewat tut-tut komputerku, yang keluar syair-syair semilir yang tak tahu ke mana akan mengalir. Kulukiskan dalam kanvas malam, justru mengusik saat pejam.

Nat-nit-nut-net-not. Suara-suara itu menampar wajahku sampai penyot. Kuoperasi di klinik Mak Erot, malah kayak knalpot. Kutiup dengan gas elpiji bantuan Pemkot, jadinya kempot. Sempat kubasuh dengan air got, justru mirip Cemot. Alah, jadi repot.

Nat-nit-nut-net-not. Jangan keburu sewot. Kusarankan tak perlu lagi menunggu Godot. Biar laju langkah tak kelewat lemot. Sebab, kenyataan hidup lebih jelas dan berbobot. Tinggal bagaimana kau pilih benih yang musti dicomot.

Nat-nit-nut-net-not. Whatever you've got, remember God!

Ampun, Mak Erooooooot!

Negeri yang kucinta


Katanya kita kaya raya. Tapi, kenapa kemiskinan justru meraja lela. Pembangunan selalu menunggu bantuan yang akhirnya menjadi utang yang mencekik jiwa. Sampai anak cucu kita musti menanggungnya.

Katanya kita negeri yang besar. Tapi, kenapa begitu mudah terkempit di ketiak Amerika. Atau dikangkangi para cukong tamak yang mencengkeram leher kita.

Di mana fakta dari semua propaganda? Seperti apa makna dari semua lagu keindahan dan kebesaran tentang Nusantara?

Betapa perihnya hati, jika saudara dan saudari sendiri diinjak-injak dan dihinakan di negeri jiran. Bagaimana tidak menangis, jika wilayah ini mulai tercuil dan makin terancam terkoyak kembali. Bahkan, masih ada yang tega menjual negara atas nama kepentingan bangsa.

Ke mana emas-berlian yang terhampar di sepanjang khatulistiwa? Ke mana hutan lebat yang menjadi peneduh dan napas Nusantara? Ke mana keindahan alam yang begitu memesona? Ke mana pula laut yang sarat isinya?

Tak lagi kudengar riuh-rendah dan sorak gembira karena juara olahraga. Di SEA Games kita merana. Sepak bola hancur porak-poranda. Bulu tangkis tinggal menunggu kehancurannya. Hutan kita makin merana. Laut kurang terjaga. Australia, Singapura, Malaysia semakin menghina.

Yang kudengar justru korupsi yang juara. Hukum tak bisa berbuat apa-apa. Pembunuhan di mana-mana. Pemerkosaan menjadi biasa. Pungli semakin menjadi raja. Sementara, para pemimpin semakin kehilangan wibawa.

Kemarin kita teriak reformasi. Harapan pun membubung tinggi. Tapi, tak lama kemudian menjadi basi. Tetap saja badut-badut berkuasa dengan wajah-wajah bertopeng dewa. Sok memikirkan bangsa, padahal mau menumpuk harta. Pura-pura dermawan, padahal punya sejuta kepentingan.

Luluh-lantak sudah seluruh rasa. Diam semakin merana, bergerak terimpit sesak, mengadu semuanya sudah membatu, menangis malah teriris, berontak justru terinjak, mengingkari akan jadi banci, bunuh diri malah konyol sendiri, mengamuk justru remuk.

Walaaah, tobat mbokne! Atau, kita galakkan saja obat tidur biar semuanya merasakan nikmatnya mimpi? Ah, itu sama saja kekalahan yang kesekian kali.

Tak semestinya tenggelam dalam frustrasi, kemudian lari dan menghibur diri dengan mimpi-mimpi. Bangsa ini tetap gagah-perkasa. Negeri ini tetap kaya raya, indah memesona. Hanya, terlalu banyak tikus yang berkeliaran di mana-mana. Bahkan semakin besar dan menjadi celeng yang panjang taringnya. Sementara, kutu busuk nyelip di mana-mana.

Musti ada kucing untuk membunuh tikusnya. Ada singa untuk mengoyak celengnya. Tersedia pestisida untuk memberantas kutu busuknya. Biar kekayaan negeri ini terbagi rata. Biar kegagahan menjadi busana setiap anak bangsa. Biar kemenangan selalu menjadi sandang setiap langkahnya. Kemudian kita nyanyikan Lagu Indonesia Raya sebagai ritus sakralnya. Dan, kita tak lagi gamang mendendangkan nyanyian keindahan Nusantara.

Tapi, di mana kucing, singa, dan pestisidanya? Tentunya kita sendiri atau setidaknya akan lahir dari anak cucu kita. Kalau begitu, jangan pernah bercinta dengan tikusnya. Atau, berselingkuh dengan celengnya. Jangan pula kau tiduri kutu busuknya. Sebab, masih ada perawan-perawan Nusantara yang bisa kita nikahi dengan seluruh rasa cinta, agar melahirkan putra-putri pahlawan bangsa.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu dipuja-puja bangsa

Tanam Bunga di Dada


Mari kita tanam bunga di dada kita
Biar wanginya merasuk ke kalbu dan semerbak ke dalam tingkah laku
Terpancar dalam pandangan mata dan membungkus setiap tutur kata

Bukankah sebaiknya cinta yang menjadi bingkai hubungan kita
Agar kasih menjadi pengikat yang erat
Rasa sayang membelai dalam tenang

Mari semai bunga di dada kita
Biar tumbuh harumnya jiwa yang tak lelah berkelana
Memberi makna di setiap helaian napas berirama

Bukankah sebaiknya harmoni yang menjadi gang perjalanan kita
Agar tak perlu lagi pertikaian yang sia-sia
Atau rasa cemburu dan iri yang mengiris hati

Biarlah segalanya berjalan apa adanya
Sebab memang begitu adanya
Tak mestilah kita mengingkari fakta
Tak pantas pula merekayasa cinta

Kenapa kau bilang mati rasa
Sementara lembah jiwamu penuh cakrawala
Kenapa pula kau harus pasrah pada lelah
Sementara ruang hatimu sedang berbinar dan merekah

Mari kita tanam bunga di dada kita
Biar kelopaknya menjadi nyanyian yang membelai jiwa
Aromanya mendendangkan syair-syair suka-cita
Dan putik sarinya menyerbuki cinta-kasih yang nyata

Lembah Manah


Di barat menjulang Gunung Merapi dan Merbabu. Di timur, Gunung Lawu tak mau kalah bertingkah. Slalu kutatap setiap pagi kala cerah. Begitu juga kala sore saat merekah. Wajah dan perawakan gunung-gunung itu makin terlihat gagah dibalut lembayung, mengantar senja meninggalkan sinarnya.
Di lembah antara gunung-gunung itu aku lahir dan dibesarkan. Ya, lembah bernama Solo atau Surakarta Hadiningrat. Aku belajar dan menemukan banyak arti, persepsi, dan makna di sana. Di lembah yang diukir keindahan Bengawan Solo dan diriuhrendahkan oleh budaya Jawa.
Aku belajar pula kelembutan interaksi, keindahan sopan santun, ketulusan berbagi, juga ikhlasnya penghormatan. Betapa aku mulai mengerti eksistensi. Orang Jawa Solo yang semestinya lemah-lembut, menghormati sesama dengan kesopanan, tanpa harus membenci perbedaan. Tanpa harus menyombongkan keberadaan. Sebab, ternyata keberadaan terletak pada perbedaan. Sejak itu pula aku mulai mencintai perbedaan.
Dalam gamang selepas SMA, aku coba kuliah di Jogja. Sebuah lembah lain dari Gunung Merapi yang tak jauh berpeda eksistensi dan roh kehidupannya dengan Solo. Di sini aku semakin menemukan dan bersinggungan dengan banyak perbedaan. Entah suku, bangsa, agama, maupun pemikiran-pemikiran.
Jogja menjadi tempat yang semakin membesarkan eksistensiku, karena saking banyaknya perbedaan. Akhirnya aku menjadi benci kesempitan, entah soal ruang maupun pemikiran. Ternyata, menurutku, keluasanlah yang semakin memberi makna keberadaan kita. Entah itu keluasan berpikir, berimajinasi, maupun berkelana dalam dunia nyata dan awang-awang.
Sejak itu pula aku merasa terobsesi menjadi wartawan. Sebab, menurutku, profesi ini memungkinkan diriku berkelana dalam keluasan hidup dan kehidupan ini. Dunia yang entah di mana batasnya. Pergolakan yang entah kapan berakhirnya.
Bukan sekadar perbedaan yang banyak kutemukan, tapi juga berbagai kontradiksi. Sebuah persinggungan dua makna atau ujud berbeda yang ternyata sering dialiri arus permusuhan yang begitu hebatnya.
Begitu banyak kesombongan, ketamakan, kebencian, sinisme, egoisme, dan hedonisme yang coba dibuat sebagai bahan bakar untuk menyulut pergolakan dalam kontradiksi. Ujung-ujungnya, egoisme atau kesombongan kelompok mencoba mengambil keuntungannya. Betapa kepentingan menjadi dewa yang mengalahkan segala esensi keindahan, kesopanan, persahabatan, martabat dan kemuliaan hidup serta kemanusiaan.
Kucoba menjadi wartawan di Lembah Jakarta. Ibukota Indonesia, juga ibukota segala kontradiksi, perbedaan, konflik, uang, nafsu, kepentingan, politik, dan juga segala basa-basi murahan. Kupikir, di sinilah lembah yang paling luas, paling banyak perbedaan, paling banyak keanekaragaman, paling luas memberi kesempatan, dan juga paling menantang.
Kutemukan lebih banyak wajah-wajah ketamakan, kesombongan, keangkuhan, keganasan, dan kebohongan. Sifat-sifat yang begitu dominan dari akar rumput sampai para elite. Pemimpin-pemimpin negeri ini pun justru menjadi teladan kesombongan, keangkuhan, ketamakan, dan kecuekan.
Ikut arus, atau terlibas olehnya. Seolah hanya itu pilihan hidup ini. Aku pun menjadi rindu segala keindahan, kesopanan, kerendahan hati, ketulusan, persahabatan, juga kepolosan.
Ternyata, semua itu tak ada di mana pun. Termasuk di Jogja atau Solo masa kini, tempat aku dibesarkan. Peradaban yang dibangun kapitalisme serakah, ternyata telah membuat semua wilayah menjadi seragam dalam berbudaya: tamak, sombong, angkuh, dan egois.
Lalu, ke mana lagi kutemukan lembah keindahan, kesopanan, persahabatan, kebebasan, penghormatan dalam perbedaan, keluasan dalam berbagai hal, tanpa harus membunuh cinta dan kasih sayang?
Kudengar ada sebuah nirwana bernama Lembah Manah (Lembah Hati). Sebuah lembah yang menghormati setiap rasa. Lembah yang memiliki toleransi, tanpa harus membangun iri. Lembah yang mengajarkan sopan santun, tanpa harus menjilat. Lembah yang mencintai luasnya imajinasi dan pendapat bervariasi, tanpa harus lupa diri. Lembah yang memberi tempat perdebatan dan diskusi, tanpa harus saling mengalahkan. Lembah yang mengerti artinya cinta-kasih dan indahnya harmoni.
Ooh, di manakah lembah itu?