
Di barat menjulang Gunung Merapi dan Merbabu. Di timur, Gunung Lawu tak mau kalah bertingkah. Slalu kutatap setiap pagi kala cerah. Begitu juga kala sore saat merekah. Wajah dan perawakan gunung-gunung itu makin terlihat gagah dibalut lembayung, mengantar senja meninggalkan sinarnya.
Di lembah antara gunung-gunung itu aku lahir dan dibesarkan. Ya, lembah bernama Solo atau Surakarta Hadiningrat. Aku belajar dan menemukan banyak arti, persepsi, dan makna di sana. Di lembah yang diukir keindahan Bengawan Solo dan diriuhrendahkan oleh budaya Jawa.
Aku belajar pula kelembutan interaksi, keindahan sopan santun, ketulusan berbagi, juga ikhlasnya penghormatan. Betapa aku mulai mengerti eksistensi. Orang Jawa Solo yang semestinya lemah-lembut, menghormati sesama dengan kesopanan, tanpa harus membenci perbedaan. Tanpa harus menyombongkan keberadaan. Sebab, ternyata keberadaan terletak pada perbedaan. Sejak itu pula aku mulai mencintai perbedaan.
Dalam gamang selepas SMA, aku coba kuliah di Jogja. Sebuah lembah lain dari Gunung Merapi yang tak jauh berpeda eksistensi dan roh kehidupannya dengan Solo. Di sini aku semakin menemukan dan bersinggungan dengan banyak perbedaan. Entah suku, bangsa, agama, maupun pemikiran-pemikiran.
Jogja menjadi tempat yang semakin membesarkan eksistensiku, karena saking banyaknya perbedaan. Akhirnya aku menjadi benci kesempitan, entah soal ruang maupun pemikiran. Ternyata, menurutku, keluasanlah yang semakin memberi makna keberadaan kita. Entah itu keluasan berpikir, berimajinasi, maupun berkelana dalam dunia nyata dan awang-awang.
Sejak itu pula aku merasa terobsesi menjadi wartawan. Sebab, menurutku, profesi ini memungkinkan diriku berkelana dalam keluasan hidup dan kehidupan ini. Dunia yang entah di mana batasnya. Pergolakan yang entah kapan berakhirnya.
Bukan sekadar perbedaan yang banyak kutemukan, tapi juga berbagai kontradiksi. Sebuah persinggungan dua makna atau ujud berbeda yang ternyata sering dialiri arus permusuhan yang begitu hebatnya.
Begitu banyak kesombongan, ketamakan, kebencian, sinisme, egoisme, dan hedonisme yang coba dibuat sebagai bahan bakar untuk menyulut pergolakan dalam kontradiksi. Ujung-ujungnya, egoisme atau kesombongan kelompok mencoba mengambil keuntungannya. Betapa kepentingan menjadi dewa yang mengalahkan segala esensi keindahan, kesopanan, persahabatan, martabat dan kemuliaan hidup serta kemanusiaan.
Kucoba menjadi wartawan di Lembah Jakarta. Ibukota Indonesia, juga ibukota segala kontradiksi, perbedaan, konflik, uang, nafsu, kepentingan, politik, dan juga segala basa-basi murahan. Kupikir, di sinilah lembah yang paling luas, paling banyak perbedaan, paling banyak keanekaragaman, paling luas memberi kesempatan, dan juga paling menantang.
Kutemukan lebih banyak wajah-wajah ketamakan, kesombongan, keangkuhan, keganasan, dan kebohongan. Sifat-sifat yang begitu dominan dari akar rumput sampai para elite. Pemimpin-pemimpin negeri ini pun justru menjadi teladan kesombongan, keangkuhan, ketamakan, dan kecuekan.
Ikut arus, atau terlibas olehnya. Seolah hanya itu pilihan hidup ini. Aku pun menjadi rindu segala keindahan, kesopanan, kerendahan hati, ketulusan, persahabatan, juga kepolosan.
Ternyata, semua itu tak ada di mana pun. Termasuk di Jogja atau Solo masa kini, tempat aku dibesarkan. Peradaban yang dibangun kapitalisme serakah, ternyata telah membuat semua wilayah menjadi seragam dalam berbudaya: tamak, sombong, angkuh, dan egois.
Lalu, ke mana lagi kutemukan lembah keindahan, kesopanan, persahabatan, kebebasan, penghormatan dalam perbedaan, keluasan dalam berbagai hal, tanpa harus membunuh cinta dan kasih sayang?
Kudengar ada sebuah nirwana bernama Lembah Manah (Lembah Hati). Sebuah lembah yang menghormati setiap rasa. Lembah yang memiliki toleransi, tanpa harus membangun iri. Lembah yang mengajarkan sopan santun, tanpa harus menjilat. Lembah yang mencintai luasnya imajinasi dan pendapat bervariasi, tanpa harus lupa diri. Lembah yang memberi tempat perdebatan dan diskusi, tanpa harus saling mengalahkan. Lembah yang mengerti artinya cinta-kasih dan indahnya harmoni.
Ooh, di manakah lembah itu?